Tuesday, December 1, 2009

MATAHARI KEPANASAN

Ada satu dunia berevolusi,
Ratusan warna hari,
Di mana si cerah adalah tugas muliaku.

Tariannya ketika mengitariku,
Mencatat satu jadwal tugas menghangat baru yang penting.
Menghilangkan sekumpulan dokumen, tentang dunia-dunia lain yang ingin meraihku.
Untuk dirinya sendiri.

Tapi aku matahari.

Aku memilih warnaku sendiri,
Sebuah terik jingga yang mampu menyakiti sesempurna hujatan-hujatan untukku.

Aku juga masih matahari.
Zat adiktif pengelola aliran kepercayaan baru,
Bahwa aku akan hadir dengan khasiat sama,
Ketika boneka teru-teru boozu tergantung di jendela rumah.

Sehancur lebur apapun muka langit di sebuah siang.


Dan sayangnya, aku matahari.
Dengan muka jingga yang bergradasi kemerahan sampai puluhan juta tahun saat dunia di sekitarku.
Saat melintas si satelit yang selalu setia mengikuti duniaku,
Matahari juga selalu tampak bergaris-garis di ujung ruangan berwarna gelap.



Berkatalah aku pada diriku sendiri,
Dunia juga punya rotasi, bodoh.






22/11/09
adnanauS




YES! I CALL MY MIND “MENTALLY TIRED”.

15/11/09

Beberapa bulan setelah liburan September kemarin, semua yang sangat baik terjadi di sekitar gua. Well cuma satu sisi hidup aja, ada manusia baru yang mendadak mengalami lompatan kuantum gara-gara gua terlalu memanjakan my favorite buddy, the smell sense. Hehehehe (*ciyeeehh,,,backstreet mode on!!)

Siap euphoric lagi kita…??!.hehe,,setelah zaman saya berkencan buta dengan Rhumba Coffee-nya Regal yang suddenly bikin euphoric parah gara-gara si rhum kayaknya kebanyakan banget (*enak tapi, enak). Cengengesan lah gua sepanjang dari PIM sampe jam 4 pagi, ditemani the one and only partner on crime, si Onye pedofil, secara online. Ngapain? Kaga inget lah, hahahaa..NANYA gua ngapain MALEM-MALEM jam segituan?? Salah total. (*FYI, kadar memori menurun di malam hari; kemampuan menulis, merangkai bahasa se-njelimet paper, membiatch, flirting2, curcol2, sampe bikin ‘project kenakalan’ remaja tingkat akhir, productive to the max!)

Yang pasti kita membodoh tentang kita yang bodoh, ngeledekin kebodohan masing-masing, dan pastinya updated biatchees around us…seolah gak ada perbedaan jarak dan waktu *always love u nyeett!!!! Padahal si kampret satu lagi siang-siangan sementara gua mau gila gak bisa tidur di minggu malem (padahal besoknya hari pertama masuk kerja…*whew, cerita lama amat ya!), dengan penyebab si Rhumba Coffee. Hahaha.
Whatta unimportant euphoric!

Ternyata Rhumba Coffee itu akhir perjalanan euphoria gua yang autis. Ada sesama mahkluk anti sosial yang seru berbagi segelas Java Chip Frappucinno bahkan yang se-ringan Fro Yo di tiap ujung Kota Jakarta dan sekitarnya. Well,,saya tiba-tiba punya teman ngopi, bertengkar, dan ketawa sampe keselek lagi!

*Dan heey…..kamu wangi sekali, teman! *big grin*

Cuma berjuta-juta jenis eforik yang muncul sampai minggu kemarin. It’s keep on coming, yes… tapi emosi-emosi lain dari sisi-sisi lain hidup gua melengkapi si eforik, supaya si hukum keseimbangan tetap berlaku.

Berapa orang diberitakan meninggal di Facebook, dan mereka bukan siapa-siapanya gua. Lalu juga berita terbakarnya rumah beserta pabrik roti besar-besaran milik salah satu teman kecil. Dan rumah tidak diasuransikan. Di mana keadaannya dia akan menikah pada tanggal 22 bulan ini (*yeah, one week to go), dan semua keluarga besar yang tinggal di sana ternyata selamat semua (*fuuh…thank God). Tapi gak ada satu barangpun yang bisa diselamatkan, termasuk juga gaun dan jas pengantin, juga sepatu yang sengaja dipesan untuk kepentingan acara pesta itu. Facebook kembali ramai…Yang ada di kepala gua waktu itu, ada apakah ini.

Banyak sekali berita yang gelap sekali di hari-hari cerah ini. Seolah matahari ingin berhenti sejenak memainkan perasaan orang-orang yang tidak pernah suka dengan teriknya,…….

Nyokap sms

Cie, Ko, Iie (*tante) Jolah meninggal.

Well, she’s not listed as my close family tree, which is yang sebenernya dia adalah sepupunya nyokap gua. Tapi…mau sejauh apapun urusan babableksip begituan, cuma dia satu-satunya orang yang bisa ngerti gua dari kecil. Dia iie gua sesungguhnya….

Yang nyikatin gigi gua dengan rasa takut menyakiti gigi gua waktu disikat.
Yang ngajarin nulis angka 1-10 vice versa kepada anak usia 3 tahun (*helloooo….3 years old writing 1-10…IN ONE DAY?????). Cuma dia yang bisa.
Yang pernah ngasih bodrexin tablet guna nurutin kemauan gua pas gua sakit kepala (gua yang kemakan iklan bodrexin obat tablet penurun panas dan sakit kepala dengan rasa jeruk).
Yang sering gua gangguin pas dia pacaran sama si om
Yang pernah bilang kalo dia sayang sama gua
Yang jadi tempat gua lari-larian kalo dikejar nyokap dan gagang sapunya.
Yang bikin gua seneng nemenin dia ke pasar karena pulangnya pasti gua dibeliin maenan ato minimal makan baso di Pasar Kapuk.
Yang punya kamar khusus di rumah lama (kita selalu bilang, itu kamar iie..walopun dia udah gak pernah tinggal di situ lagi dan udah jadi kamar gua & Guruh).
Yang tahu nama gua pernah akan menjadi Yoko kalo gua jadi muncul lahir di dunia dalam keadaan berkelamin laki-laki (*hiyaaahh…dia juga cerita tentang tampang bokap yang stressed out gara-gara gak nyediain nama perempuan, karena yakin sekali anaknya bakal berkelamin laki-laki. Nah!)
Yang rela saja dipanggil namanya saja (tanpa embel-embel iie) kalo gua udah lebih tinggi dari dia (*tetep dengan gaya ketawanya yang khas dan menyenangkan) ~dan semua orang tau nazar gua….haha…but I couldn’t call her so, even though I am taller already…
(satu-satunya) yang bisa gua peluk cium dengan sepenuh hati kalo gua pulang dari rumahnya
Yang walopun segitu jauh jarak usianya sama gua, kita tetep masih bisa ketawa-ketawa bareng, dan berisik banget ngurusin keponakan perawannya yang udah 25 tahun belom nikah juga…*grrrr…!!!
Yang gak pernah keliatan sedih.

Dan kehilangan dia, adalah alasan yang sangat penting yang membuat gua sedih.

Sedih karena ditinggalkan orang yang gak pernah keliatan sedih.

Dia meninggal sakit dengan gula darah 600, dan gak ada yang sadar kalo dia sakit. Dia terlalu pintar menutupi rasa sakit itu dengan ketawanya yang khas. Atau justru rasa sakit itu memang benar berkurang karena banyak tertawa?

Semua orang berpendapat: Dia meninggal karena lelah.

Pernahkah saya bikin kamu lelah juga kalau begitu ceritanya, ie?

Waktu sepupu dan nyokap bilang dia meninggal, it’s just a short attack. Gua hanya menghela napas, dan selesai. Besoknya bokap sms, pemakaman hari Minggu. Kalo bisa kamu datang, babe hutang budi banyak sekali.
Love needs respect. Appreciation as well.
Yang hutang budi itu saya.
Kenapa dari kemarin banyak yang “minta tolong” gua dateng? I would do it because I know she deserved my respect, deserved my appreciation.
Ketika gua masuk ke rumahnya, cuma bisa liat petinya dari luar. Petinya ditemani si om yang gak bisa berdiri tegak, dan kedua anaknya. Angga, 15 tahun, dan Cindy, 12 tahun.

Penghormatan terakhir.
Akhirnya si om ketemu sama gua. Dia peluk gua dan nangis dalam sekali. Gak mampu berbicara untuk beberapa saat, dan akhirnya bilang, “(Iie) seneng liat anaknya (gua) bisa dateng.” * and I couldn’t say anything but cry. Gua cuma bisa liat foto di depan peti, yang selalu terekam di kepala gua dari dulu, dan gua butuh re-saved it into my mind, and I did so.

Mengunjungi setiap sudut rumah
Ketika gua bisa berlama-lama di rumah kecil jauh sekali dari Bogor, tempat di mana waktu kecil gua menghabis-habiskan libur, main-main di rumput teki yang bagus rapi terurus, di mana bau obat nyamuk bakar selalu tercium di malam hari, di mana gua selalu tidur di samping dia dan mengobrol tentang banyak hal yang dia gak kenal juga, but I kept on talking with her til nite.

Dan sekarang rumputnya udah berbeda genus,
kamar mandi birunya gak pernah tersentuh aktivitas “memandikan gua di pagi dan sore hari”,
sumur belakang juga gak pernah berbunyi semenarik saat dia mengambil air untuk gua pupup. Ruang samping tempat gua maenin masak-masakan dan tembak-tembakan sama si ko Hengki & ko Pipiet juga sekarang penuh,
diduduki orang-orang yang akan mengantar dia hari ini ke pemakaman sederhana sekali di belakang rumah.

Gak pernah ada yang siap untuk mengantar iie ke pemakaman. Hanya jika kita punya pilihan lain.
Emang gua mesti ngabisin sisa-sisa tenaga eforik yang berminggu-minggu gua punya untuk hari ini. Karena ternyata lokasi makam adalah daerah di mana gua sering sekali melewati setiap jengkal langkah kaki ketika dulu gua bersama dia setelah pulang dari kebun belakang. Kenapa harus jalan ini juga.
Gak cukupkah gua nahan nangis di setiap spot di rumahnya dia? Harus ke tempat ini juga…………………………………………………………………………………………….

Let me finish my entire feelings, with my own way.
Tega sekali.
Akhirnya yah gua gak bisa sekalipun menghentikan air mata gua. The tears kept on coming! And I didn’t care at all. Gua ketagihan nangis setelah ngeliatin anaknya yang kecil seperti kehilangan kemampuan menangisnya. It’s ironic.
And I felt so sorry to her. She’s too young…and she well tried to deal with her lost.
Dan itu yang bikin gua nangis makin meradang.
Cuma ngalirin air mata, tanpa bunyi dan sedu, tapi…it’s mentally tiring.
Gua gak peduli semua orang bilang, “sudahlah…” *saya tahu apa yang saya perbuat, dan mengontrol untuk menghentikan tangisan gua, itu cuma perbuatan bodoh yang gak bikin gua lega.
Dan gua akhirnya cuma butuh 1 hari untuk recover kelelahan gua kemarin.
Tapi anaknya yang gak bisa menangis kemarin….sangat menyesakkan perasaan gua sampe sekarang.
She’s so alike her.
Gua gak bisa ngomong apa-apa ke dia. Sama sekali.
Dan si nyokap, yang gak pernah banyak peduli dengan segala macem jenis keponakan yang di mana-mana, kemarin ternyata bilang ke dia, “Cindy sering-sering maen ke Sukabumi yah….” *fuuuuuhhh….terima kasih sekali, mam, untuk bisa mewakili apa yang gua rasain. Untuk menyampaikan apa yang gak bisa gua sampaikan.

Sampai akhirnya gua balik kemarin, badan ini memang lelah. Tapi keadaan jiwa gua, berpuluh-puluh kali lebih lelah dari perjalanan gua.

Berkali-kali menggaung di kepala gua, pembicaraan di saat gua ngejenguk Cindy yang masih bayi waktu itu,
“Sekarang bagian kamu yang jaga dia….hehheheee….enak aja lo udah iie jagain mpe udah jadi perawan begini….hahhahahha…”

Tenang.
Saya tidak tertekan.
Semoga saja, walaupun dengan bentuk yang berbeda, I have my own time, to keep my eyes…my heart on them.
Sama seperti perasaan rindu kita, yang gak pernah hilang, walaupun saya menghilang beberapa tahun dengan kehidupan saya sendiri. Kita selalu ada untuk keduanya.

Terima kasih untuk pernah di sini tanpa diminta, berada di titik yang tidak terjangkau dari visualisasi semua orang yang mengenal saya, padahal segala bentuk kecerdasan yang saya miliki sekarang, iie menaruh aset yang tidak terhitung.

Satu hari indah untuk diri sendiri
Untuk Duniaku, pemilik eforia berlebihan : Terima kasih untuk ada selama proses pengumpulan emosi yang harus dilepaskan, Duniaku, di dalam sini, memeluk kumpulan perasaan negatif itu untuk disatukan oleh rasa yang sangat positif, untuk membiarkan satu hari indah untuk dunia saya sendiri. Sayang sekali kamu.

I took one day off today,,,yihaaaaaaaiiii!!! And u completed it perfectly.

Ramalan cuaca:
Selasa (17/11) Cuaca cerah sekali sampai rasanya orang-orang yang menunggu murid-murid olahraga di Pertamina Simprug menyerah kalah dan mampu menenggak air mineral. *Cheers!!!!!!!!!!!!!!!!


adnanauS
16/11/09

GUA DICIPTAKAN TIDAK SESEDERHANA ITU

23/08/09


Hiyaa…Gua mengaktivasikan diri di dunia per-blogging-an. Gara-gara most of orang gilas tukang cela no.1 itu pada puasaan, jadi daripada ganggu orang ibadah, gua sebaiknya nyela diri gua sendiri aja sebagai bagian dari tahap belajar terakhir yakni refleksi diri. Mana 1 bulan tanpa food fiesta, huhu..(*lebai ah! Cuma melewati 2x doang juga haha). Lengkap gitu sama status comment Maria tadi yang masih terngiang-ngiang,”Inget… apa yang dibilang Melta...”


*Huaakkhh!!


Provider hp gua kompak banget lagi, langsung mengirimkan layanan sms diskon yang bikin berbinar-binar, tapi berakhir pengen nampar.


(lihat ujung awal tulisan)


“GRATIS 1X trial & 1 tahun membership hanya dengan bayar 6 bulan di outlet-outlet M*****GYM Jkt. Tunjukkan sms ini s/d 14 Oktober 2009. Berlaku bagi pelanggan baru.”


*Haaarrrkkkhh!!


Perilaku selanjutnya yang sangat tidak disarankan: gua membuka webnya (mungkin ini jalan keluar yang dikirimkan Tuhan atas semua kesalahan besar gua menyimpan lemak 2 tahun ini, haha) dan tidak menemukan segala yang berbau angka kecuali manusia-manusia tanpa lemak. *gila, gak dikasih makan apa mbak sampe begitu perutnya (*proyeksi iri tanda tak mampu)


Naaah,,pertanyaannya adalah: apakah ini luck atau fate?


Gua seperti kehilangan pegangan untuk membedakan kedua jenis vocabulary ini. Coba tante-tante English Literature, dibantu temennya…sebelum gua ngarang bebas seperti di bawah ini.


Entah bagaimana gua memandang dari kejauhan, luck itu bilangan 0. Tidak ada. Lets say, pasti kita nemuin makhluk yang kerjanya diem anteng aja, tapi hokinya gede abis…pacar kaya, muka cakep kayak engko-engko roxy (*heh, seleranya!), aduh gak ada abis-abisnya deh buat dipuji.


Tapi masa iya ada yang namanya luck?

Mengingat Tuhan mungkin udah kecapean bikin fate. Udah kebingungan bagaimana misahin 2 kutub, ngawin-ngawinin dari bangsa kecoa sampe manusia yang gak tahu diri maunya beranak mulu. Mana sempet bikin undian berhadiah macem gitu sih? Pilih kasih juga dong kalo ada orang yang idupnya luck mulu, sementara yang laen kebagian nontonin luck orang.


Kita diciptakan terlalu spesial untuk mendapatkan hal sesederhana luck, yang tinggal cap cip cup kembang kuncup.


----yang ada cuma fate—


Kalo sesuatu tercipta karena kebutuhan, karena dibutuhkan, karena membutuhkan.

Dan yang menciptakan luck, cuma manusia yang sangat manusia.

Karena mereka yang tidak pernah melihat apa yang pernah dan tidak pernah dikasih untuk dirinya.


Gua sendiri merasa kehidupan gua standar-tingkat-tinggi. (Standar mau tingkat rendah sama tinggi juga sama standar kan? *nah, mulai kan sifat manusia lu!)


Gak kesusahan, juga gak kemudahan.


Sering banget gua ngalamin yang namanya batal keujanan. (”lucky youuuu…” mode on)

Udah ujan segitu gede, gak bawa payung (gua bawa payung cuma musim ujan yang gede bgt doang!), pasrah aja udah.

Eh, bisa aja loh langsung berenti pas gua turun mau keluar.


Keajaiban no.1 yang sering banget gua temuin.


Sekalinya gua petantang petenteng kepedean keluar rumah pake celana putih baru dicuci sambil ngeliat langit gelap, naek ojek pula. Bodooooodddd…pastilah ujan langsung ngegubrak gak pake teriak!


Bagi gua itu impas, ada kepentingan maka karenanya sesuatu terjadi. Sama seperti apa yang orang bilang luck, gua cuma bisa nyengir ngakak kalo unluck yang gua dapet.


Sampe putus sandal 3x di tempat umum itu gimana cerita ilmiahnya. Membuahkan prestasi diperhatikan orang sepanjang jalan karena 2x nyekeran di jalan raya.


Gua juga berbakat sekali bertemu orang yang berwatak sama, berkelakuan minus, dan gua punya cerita sama yang berulang-ulang bisa terjadi dengan orang-orang yang berbeda. Dan itu membuat hidup gua menyenangkan luar biasa. Gua belajar menjadi orang biasa yang unik. Gua belajar bersyukur dari cerita-cerita seru temen gua. Mereka melengkapi cerita yang lupa gua gambar di kepala.



Something happens for reason.



* Gak ada orang yang inget susah waktu mereka senang. Itu sebabnya mereka gak bisa bersenang-senang di saat susah.



Monday, November 30, 2009

FILOSOFI BERMAIN BERPELUH KERINGAT

Permainan hari ini seru biru.
Namanya main lempar batu sembunyi kepalamu.

Begini mainnya.
Kita lempar-lemparan semua jenis batu yang sudah kita kumpul.
Tapi harus dilempar satu-satu.
Sampai sini sudah jelas?

Akan lebih jelas lagi, kalau saya sudah bilang : batu ini harus dilempar ke arah lawan.
Pemenangnya?
Nanti dulu, masih panjang aturan main kita.

Kamu boleh, boleh sekali bermain secerdik yang kamu bisa, securang yang kamu mampu.
Sayang sekali kalau kamu cuma bisa bermain buruk, kan?
Dengan ketidakterbatasan aturan main ini, kamu punya 10.000 cara paling elegan untuk memenangkan permainan lempar batu ini.
Dan 1 juta cara terburuk, dan sayangnya, semua orang pasti sudah mencobanya.
Tapi saya tahu kamu,
Yang terlalu sombong untuk bermain kotor tanpa baju.

Sekarang kita bicara tentang pemenang, dan pengalah.
Kenapa kaukerutkan dahi?
Oh. Itu. Aku hanya ingin menjadi wasit sempurna.
Eh, adil. Aku netral.
Orang yang menang jadi pemenang.
Orang yang kalah tentu saja pengalah.
Salah?
Tidak? Bisa kita lanjutkan sekarang,

Mereka yang menang adalah mereka dengan luka sebanyak mungkin di kepalanya.
Kenapa?

Pertama, mereka tidak takut.
Darah dan lebam, besok juga pergi kabur.
Mereka tidak datang dengan helm,
Yang melindungi kepala mereka justru otaknya.

Kedua, pemenang adalah si pemain berotak.
Terlalu mudah untuk menang jika kamu berdiri di tengah medan area dan menjual kepalamu untuk dilempari batu.
Sangat mudah, dan murahan.
Cuma yang murahan seperti itu yang akan hidup tanpa luka lebam di sini, pemainku.
Bukankah barang dengan edisi terbatas selalu habis di pasaran dalam sehari,
Dan tiga baju seharga sepuluh ribu akan tinggal tergantung di ujung depan etalase toko.
Sampai depan jalan,
Mengiba untuk dicuri barang sehelai.

Ini kriteria ketiga.
Rasakanlah permainanmu.
Mainkan perasaanmu.
Ini lapangan, bukan papan catur.
Dan kamu juga bukan biji catur!
Sadari di sini tidak ada garis, juga tidak ada batas waktu.
Tidak ada seorangpun mengenakan jam tangan.
Sekarang paham, jam tangan dilepas bukan karena alasan material.
Mereka akan selesai bermain,
Ketika keringat-keringat tidak lagi terproduksi,
Ketika tawa terkencing-kencing itu sudah berserakan dan siap dibereskan.

Ketika semua pemain percaya,
Aku tidak lagi diperlukan di sini.

Tidak pernahkah kau menangis,
Dan merasa permainan ini jauh dari adil, pemain veteranku?
Tanyaku yakin bahwa mereka tidak yakin dengan pengusiran wasit pembela keadilan ini.

Permainan ini jauh dari adil, ujarnya.
(*aku berhenti mengepak barang)

Tetapi aku pernah menjadi pemain.
Tetap pemain walaupun aku hanya duduk dengan sebotol mineral di tangan.
(*dia bantu aku lipat semua bajuku)


Bukan aku tidak mau marah dengan 1.010.000 pelempar, wasit.

Semenjak aku mendarat di lapangan hijau tempat menari dan terbang terluas,
Aku tidak bisa marah.



Aku sudah bersumpah untuk menjadi pemenang dengan 4 kriteria itu.


(*seragamku dicopot. Bodohnya, aku mendaftar jadi pemain hari ini)





adnanauS
29/11/09

Sunday, August 23, 2009

PAMER TANPA HENTI

gua (yang niat cari gara2 duluan) : doh,, aku dikasih kado sampe 1 kotak gede banget sama parent yang baru pulang dari bali...ada kain bali sama sendal buat mam, gantungan kunci buat dede sama koko, sama kacang bali buat beh tersayang...



(hening...sms tidak dibalas..sampai...)

bokap: kamu kasih beh kacang bali tuh sama aja kayak menabuh gendang peperangan, ngerti...!!!


skor: 1-0


bokap:tau gak kamu, aku dapet proyek gede loh ngejual lemari buat di DPRD..keuntungannya buat pasang gigi sama ke bali sama mam aah....mau kawin perak di bali euuyy..terus ke bunaken...biarkan ikan-ikan menari di laut melihat beh bermesraan sama mam...


gua:terserah deh, tapi kalo mau ke bunaken mesti reserve 1-2 bulan dulu, supaya ikan-ikan sama terumbu karang di laut diamankan dulu sama petugas...ntar lagi bunaken bakal sama kayak muara angke warnanya, gara2 ikan pada muntah semua ngeliatin beh.


bokap:heh!sembarangan..yang ada juga kerang kali yang muntah, keluar mutiara biru...:D


hokaaaiiii,,,,skor: 1-0.5
(kan gua tadi mampu mendorong mundur si engko-engko tukang furniture yang giginya selalu dianggap seksi karena selalu tampil minim)

GUA DICIPTAKAN TIDAK SESEDERHANA ITU.


Hiyaa…Gua mengaktivasikan diri di dunia per-blogging-an. Gara-gara most of orang gilas tukang cela no.1 itu pada puasaan, jadi daripada ganggu orang ibadah, gua sebaiknya nyela diri gua sendiri aja sebagai bagian dari tahap belajar terakhir yakni refleksi diri. Mana 1 bulan tanpa food fiesta, huhu..(*lebai ah! Cuma melewati 2x doang juga haha). Lengkap gitu sama status comment Maria tadi yang masih terngiang-ngiang,”Inget… apa yang dibilang Melta...”


*Huaakkhh!!


Provider hp gua kompak banget lagi, langsung mengirimkan layanan sms diskon yang bikin berbinar-binar, tapi berakhir pengen nampar.


(lihat ujung awal tulisan)


“GRATIS 1X trial & 1 tahun membership hanya dengan bayar 6 bulan di outlet-outlet M*****GYM Jkt. Tunjukkan sms ini s/d 14 Oktober 2009. Berlaku bagi pelanggan baru.”


*Haaarrrkkkhh!!


Perilaku selanjutnya yang sangat tidak disarankan: gua membuka webnya (mungkin ini jalan keluar yang dikirimkan Tuhan atas semua kesalahan besar gua menyimpan lemak 2 tahun ini, haha) dan tidak menemukan segala yang berbau angka kecuali manusia-manusia tanpa lemak. *gila, gak dikasih makan apa mbak sampe begitu perutnya (*proyeksi iri tanda tak mampu)


Naaah,,pertanyaannya adalah: apakah ini luck atau fate?


Gua seperti kehilangan pegangan untuk membedakan kedua jenis vocabulary ini. Coba tante-tante English Literature, dibantu temennya…sebelum gua ngarang bebas seperti di bawah ini.


Entah bagaimana gua memandang dari kejauhan, luck itu bilangan 0. Tidak ada. Lets say, pasti kita nemuin makhluk yang kerjanya diem anteng aja, tapi hokinya gede abis…pacar kaya, muka cakep kayak engko-engko roxy (*heh, seleranya!), aduh gak ada abis-abisnya deh buat dipuji.


Tapi masa iya ada yang namanya luck?

Mengingat Tuhan mungkin udah kecapean bikin fate. Udah kebingungan bagaimana misahin 2 kutub, ngawin-ngawinin dari bangsa kecoa sampe manusia yang gak tahu diri maunya beranak mulu. Mana sempet bikin undian berhadiah macem gitu sih? Pilih kasih juga dong kalo ada orang yang idupnya luck mulu, sementara yang laen kebagian nontonin luck orang.


Kita diciptakan terlalu spesial untuk mendapatkan hal sesederhana luck, yang tinggal cap cip cup kembang kuncup.


----yang ada cuma fate—


Kalo sesuatu tercipta karena kebutuhan, karena dibutuhkan, karena membutuhkan.

Dan yang menciptakan luck, cuma manusia yang sangat manusia.

Karena mereka yang tidak pernah melihat apa yang pernah dan tidak pernah dikasih untuk dirinya.


Gua sendiri merasa kehidupan gua standar-tingkat-tinggi. (Standar mau tingkat rendah sama tinggi juga sama standar kan? *nah, mulai kan sifat manusia lu!)


Gak kesusahan, juga gak kemudahan.


Sering banget gua ngalamin yang namanya batal keujanan. (”lucky youuuu…” mode on)

Udah ujan segitu gede, gak bawa payung (gua bawa payung cuma musim ujan yang gede bgt doang!), pasrah aja udah.

Eh, bisa aja loh langsung berenti pas gua turun mau keluar.


Keajaiban no.1 yang sering banget gua temuin.


Sekalinya gua petantang petenteng kepedean keluar rumah pake celana putih baru dicuci sambil ngeliat langit gelap, naek ojek pula. Bodooooodddd…pastilah ujan langsung ngegubrak gak pake teriak!


Bagi gua itu impas, ada kepentingan maka karenanya sesuatu terjadi. Sama seperti apa yang orang bilang luck, gua cuma bisa nyengir ngakak kalo unluck yang gua dapet.


Sampe putus sandal 3x di tempat umum itu gimana cerita ilmiahnya. Membuahkan prestasi diperhatikan orang sepanjang jalan karena 2x nyekeran di jalan raya.


Gua juga berbakat sekali bertemu orang yang berwatak sama, berkelakuan minus, dan gua punya cerita sama yang berulang-ulang bisa terjadi dengan orang-orang yang berbeda. Dan itu membuat hidup gua menyenangkan luar biasa. Gua belajar menjadi orang biasa yang unik. Gua belajar bersyukur dari cerita-cerita seru temen gua. Mereka melengkapi cerita yang lupa gua gambar di kepala.



Something happens for reason.



* Gak ada orang yang inget susah waktu mereka senang. Itu sebabnya mereka gak bisa bersenang-senang di saat susah.



Saturday, August 22, 2009

190709

Untuk satu yang belum pasti aku mau sekarang.


Haruskah aku bertarung lagi?

Aku tidak punya kemampuan menyerah.

Menyerah lebih sulit dari tidak menyerah.

Tapi tidak pernah aku peduli.



Mau kamu aku tak tahu.

Mau aku tak tahu aku.

Aku mau tak tahu kamu.



Walau lupa kamu adalah sebagian dariku.

Aku tak mau menyerah.

Aku tak mampu menyerah.

Aku tak mau kamu hilang.



Atau kamu pikir kamu semata?

Tidak bisa membagikah kamu, Kepala?

Tak mau pergi, walau kamu cuma rutinitas kosong belaka.



Kepala ini terlalu membiasa bersama kamu.

Aku tak mau buang kamu.

Aku tak mau buang waktu.

Membuang tiap gambar yang aku simpan pelan.

Separuh kepala, haruskah kau menengok sebagian?



Malah tidak mau aku tahu.

Aku tidak tahu cara melepasmu, atau dia akan menghancur isi otak premiumku.

Buat kepala ini tinggalkan si kuman dalam detik.

Kepala ini terlalu terkutuk untuk bilang itu kata.




AJARI AKU MENYERAH.